Home / BERITA TERBARU / Pemerintah Perkuat Stabilitas Pangan dan Energi di Tengah Dinamika Global

Pemerintah Perkuat Stabilitas Pangan dan Energi di Tengah Dinamika Global

Jakarta – Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menegaskan bahwa sektor sawit nasional tetap menunjukkan kinerja positif di tengah ketegangan geopolitik global yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan energi dunia.

Konflik yang melibatkan sejumlah negara besar telah mendorong kenaikan biaya logistik dan ketidakpastian pasar global, namun Indonesia dinilai masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat melalui sektor komoditas strategis.

Eddy menyampaikan bahwa produksi kelapa sawit Indonesia pada 2025 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Produksi sawit kita. Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total ini secara total produksi kita dengan PKO itu, 56 juta.” kata Eddy.

Peningkatan produksi tersebut didukung oleh kondisi cuaca yang relatif baik serta harga sawit yang stabil, sehingga mendorong petani untuk lebih optimal dalam merawat kebun.

Data menunjukkan produksi crude palm oil (CPO) mencapai sekitar 51,6 juta ton atau naik sekitar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dengan perang ini yang kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih jalan. Sawit ekspornya masih jalan.” ungkapnya

Program biodiesel menjadi bagian penting dalam strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Saat ini, implementasi telah mencapai bauran B40, dengan rencana pengembangan menuju B50 dalam jangka panjang.

“Menteri Pertanian minta supaya kita memang setuju untuk peningkatan produktivitas untuk meningkatkan produksi kita karena program pemerintah ini akan swasembada energi utamanya untuk biodiesel. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi.” Ungkap Eddy.

Selain sawit, pemerintah juga mendorong optimalisasi komoditas lain seperti singkong sebagai bahan baku bioetanol. Langkah ini merupakan bagian dari diversifikasi energi berbasis sumber daya lokal.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa krisis global justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi menuju kemandirian pangan dan energi nasional.

“Menurut saya, krisis justru mempercepat rencana transformasi kita. Akhirnya kita dipaksa akselerasi. Kita sudah mengerti masalahnya, dari dulu kita ingin swasembada pangan, swasembada energi. Kita sudah mengarah ke situ, tapi sekarang akan mempercepat,” ujar Presiden.

Presiden juga menekankan pentingnya transisi menuju energi terbarukan yang berbasis sumber daya domestik.

“Kita sudah tahu bahwa kita harus melakukan pengalihan energi pada energi terbarukan, kepada energi yang kita miliki sendiri. Kita sudah paham itu. Ini mempercepat, jadi memaksa kita untuk bekerja lebih keras,” kata Presiden.

[w.R]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *