Jakarta – Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyampaikan bahwa realisasi belanja negara pada awal tahun 2026 menunjukkan peningkatan signifikan seiring dengan percepatan pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah menilai percepatan belanja negara di awal tahun merupakan strategi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya pada kuartal pertama.
“Hingga akhir Februari, belanja negara mencapai Rp493,8 triliun dan tumbuh 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Suahasil dalam paparan kinerja APBN di Jakarta.
Salah satu program yang memberikan kontribusi terhadap percepatan belanja tersebut adalah Program MBG.
Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Hingga awal Maret 2026, pelaksanaan program MBG telah menjangkau sekitar 61,62 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Program tersebut dilaksanakan melalui lebih dari 25 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah.
“Percepatan belanja negara, termasuk melalui program prioritas seperti MBG, diharapkan dapat memperkuat daya beli masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi pada awal tahun,” ujarnya.
Selain memberikan manfaat dari sisi pemenuhan gizi masyarakat, program MBG juga strategi untuk menguatkan gizi sejak 1.000 hari pertama kehidupan.
BGN menegaskan penerima manfaat utama Program MBG adalah balita, ibu hamil, dan ibu menyusui atau kelompok 3B. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan pemahaman bahwa MBG tidak semata-mata program makan di sekolah, melainkan strategi penguatan gizi sejak 1.000 hari pertama kehidupan.
Ia menjelaskan, sebanyak 77 negara telah menjalankan program makan di sekolah. Namun, menurutnya, Indonesia memiliki pendekatan berbeda karena tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga kelompok rentan 3B.
“Ini yang merupakan keunggulan dari program MBG ini. Hanya di Indonesia ada program makan yang makanannya diantar ke rumah oleh kader-kader di puskesmas siapa yang mendapatkanya ibu hamil dan ibu menyusui itulah keunggulannya, di negara lain tidak ada,” jelasnya.
Sony menekankan, mitra pelaksana MBG harus lebih dahulu memprioritaskan kelompok 3B sebelum melakukan pendataan di sekolah. Hal ini, kata dia, berkaitan langsung dengan fase krusial 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan kualitas generasi mendatang.
Program MBG ini, lanjutnya, dirancang sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia jangka panjang dengan memastikan kualitas gizi kelompok rentan 3B terjamin sejak masa awal kehidupan, sejalan dengan visi Indonesia 2045.





