Oleh: Zhafran Goldwin)*
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan melalui pendekatan promotif dan preventif. Selain mendeteksi penyakit tidak menular, mulai 2026 program ini juga mencakup skrining kusta sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Kebijakan ini menunjukkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan dari yang semula berorientasi pada pengobatan menjadi lebih mengedepankan pencegahan dan deteksi dini sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.
Komitmen tersebut diperkuat dengan kebijakan baru pemerintah. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, mulai 2026, skrining kusta akan disertakan dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya pemerintah mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini sebenarnya dapat disembuhkan apabila ditemukan sejak dini dan diobati hingga tuntas. Namun, rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah, serta stigma yang masih melekat menyebabkan banyak penderita terlambat memeriksakan diri. Akibatnya, sebagian kasus baru ditemukan ketika telah memasuki tahap lanjut dan berpotensi menimbulkan kecacatan. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kasus-kasus tersembunyi yang belum teridentifikasi oleh sistem pelayanan kesehatan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, meski kusta adalah penyakit yang sulit menularnya, pihaknya berkomitmen untuk mencari penderitanya sebanyak-banyaknya dan segera mengobatinya. Dia menjelaskan, saat ini, ada sekitar 13.000-15.000 penderita kusta di Indonesia. Namun, jumlahnya bisa lebih banyak dari angka tersebut. Oleh karena itu, pihaknya juga mendorong skrining kusta yang masif dengan memberi penghargaan pada kepala daerah dan puskesmas yang banyak menemukan kasus kusta.
Integrasi skrining kusta ke dalam CKG menjadi langkah strategis untuk memperluas penemuan kasus secara aktif. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara rutin memberi peluang bagi tenaga kesehatan menemukan penderita yang sebelumnya belum terdeteksi sehingga pengobatan dapat segera dimulai sebelum terjadi komplikasi maupun penularan lebih lanjut. Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya diukur dari sedikitnya kasus yang dilaporkan, tetapi juga dari kemampuan sistem kesehatan menemukan kasus lebih awal dan memastikan seluruh pasien memperoleh pengobatan.
Penguatan deteksi dini tersebut sejalan dengan transformasi layanan kesehatan primer. Puskesmas tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat berobat, tetapi juga menjadi pusat edukasi, skrining, dan pencegahan penyakit. Melalui CKG, masyarakat didorong membangun kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala karena banyak penyakit, termasuk kusta, dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Budaya pemeriksaan kesehatan rutin diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus menekan beban pembiayaan kesehatan di masa mendatang.
Di sisi lain, pengendalian kusta tidak hanya bergantung pada pelayanan medis, tetapi juga pada meningkatnya pemahaman masyarakat. Stigma yang menganggap kusta sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan masih menyebabkan sebagian penderita memilih menyembunyikan kondisinya. Padahal, pengobatan yang tersedia mampu menyembuhkan penderita apabila dilakukan secara tuntas. Karena itu, pelaksanaan CKG juga menjadi sarana edukasi untuk memberikan informasi yang benar mengenai penyebab, penularan, dan pentingnya pengobatan sejak dini sehingga diskriminasi terhadap penyandang kusta dapat terus berkurang.
Upaya tersebut turut diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan Kemenkes dan The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation untuk mengembangkan model intervensi berbasis bukti dalam mendukung deteksi dini kusta dan pengurangan stigma di tingkat komunitas, yang diharapkan dapat direplikasi serta diintegrasikan ke dalam kebijakan publik. Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek.
Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa eliminasi kusta memerlukan pendekatan yang menyentuh aspek medis sekaligus sosial. Selain memastikan penderita memperoleh pengobatan, diperlukan pula edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat memahami bahwa kusta dapat disembuhkan dan tidak perlu menjadi alasan terjadinya diskriminasi. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk memperluas deteksi dini sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang kusta.
Pelaksanaan CKG juga akan menghasilkan data kesehatan yang lebih akurat mengenai persebaran kasus di berbagai daerah. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan wilayah prioritas, memperkuat kapasitas layanan kesehatan, serta menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin besar peluang mencegah kecacatan, memutus rantai penularan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ke depan, integrasi skrining kusta dalam CKG menjadi salah satu inovasi penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Melalui deteksi dini, edukasi yang berkesinambungan, serta kolaborasi lintas sektor, upaya menemukan kasus-kasus kusta yang selama ini tersembunyi akan semakin optimal. Langkah tersebut tidak hanya mendukung target eliminasi kusta, tetapi juga memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan terlindungi melalui layanan kesehatan yang semakin merata dan berorientasi pada pencegahan.
*) Penulis adalah Content Writer di Medical Groovia






